Cerpen BH Ahad: Pokok tin di tanah pinjaman
Hujan di pekan ini turun seperti orang tua yang mengenang: perlahan, berulang, enggan berhenti. Sejak pagi bumbung kedai berbicara dalam bahasa timah, dan udara membawa bau tanah yang baru dibuka, bau baja, bau sabut kelapa yang lembap. Di situlah saya menghabiskan umur, di sebuah nurseri kecil warisan ayah, di antara rak anak benih, guni tanah hitam, dan tin penyiram yang sumbatnya selalu hilang.
